KKN di Kampung Sendiri, Mahasiswa UNDIP berikan Paket Stay at Home (SP2) dan Ajarkan Masyarakat Berkebun Hemat, Ramah Lingkungan di Rumah dengan HIDRONA (Hidroponik Sederhana).

Brebes (29/7/2020) – Pandemi Virus Disease 2019 (Covid-19) telah memunculkan tantangan baru, salah satunya yaitu kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) Universitas Diponegoro yang tidak dapat dilaksanakan seperti biasanya. KKN yang biasanya dilakukan secara berkelompok (tim), pada KKN saat ini dilakukan secara mandiri (individu) sesuai domisili mahasiswa dengan mengusung tema “ Pemberdayaan Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19 Berbasis pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Pandemi Covid-19 bukanlah suatu penghalang bagi mahasiswa Universitas Diponegoro untuk mewujudkan tri dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa Universitas Diponegro tetap melakukan Pengabdian dan pemberdayaan masyarakat di tengah Pandemi Covid-19 dengan tetap memperhatikan protokol Kesehatan yang berlaku guna memutus rantai penyebaran Covid-19.

 

Merinah, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika yang juga merupakan salah satu mahasiswa KKN Tim II Undip asal Brebes berinisiatif untuk memberikan paket stay at home (SP2) dan mengenalkan serta mengajarkan masyarakat cara berkebun hemat, ramah lingkungan di rumah dengan HIDRONA (Hidroponik Sederhana). Program KKN ini merupakan wujud kepeduliannya pada kondisi Kesehatan dan perekonomian masyarakat brebes, khususnya warga Desa Kemurang Wetan, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes yang terdampak Covid-19. Dengan adanya program sederhana ini, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mematuhi Program Pemerintah untuk tetap berada dirumah.

Paket stay at home (SP2) yang diberikan berupa Sosialisasi terkait Covid-19, Pelatihan pembuatan hand sanitizer sesuai formulasi WHO, dan Pembagian (Masker, hand sanitizer, leaflet). Hal ini dilatarbelakangi dari hasil survey yang dilakukannya di Desa Kemurang Wetan, dimana masih banyak masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran Covid-19. Tujuan diberikannya paket stay at home (SP2) ini yaitu, agar masyarakat mematuhi dan mengikuti protocol Kesehatan yang ada atas dasar pemahaman yang dimiilikinya mengenai Covid-19.

Pelatihan pembuatan hand sanitizer yang merupakan salah satu komponen paket stay at home cukup mudah, praktis, dan tidak terlalu mengeluarkan banyak biaya. Pembuatan hand sanitizer dilakukan tanpa menggunakan bahan alam, melainkan dibuat dengan alcohol dan beberapa bahan kimia lainnya. Oleh karenanya hand sanitizer ini dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama (dalam hitungan tahun). Tidak digunakannya bahan alam dalam pembuatan hand santizr ini dikarenakan rendahnya stabilitas bahan alam yang menjadikan hand sanitizer tidak dapat bertahan lama, karena bahan alam dalam hand santizer tersebut akan rusak. Pelatihan pembuatan hand sanitizer ini bertujuan agar masyarakat dapat membuat hand sanitizer sendiri di rumah, dengan bahan- bahan yang dapat dibeli di toko bahan kimia terdekat, sehingga masyarakat perlahan mulai terbiasa menggunakan hand sanitizer setelah beraktivitas.

Mewabahnya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di banyak negara dan di Indonesia telah mempengaruhi perekonomian dunia dan Indonesia. Kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan usaha-usaha guna meningkatkan kesejahteraan rakyat pun terhambat untuk kurun waktu yang relatif lama, dan menimbulkan kerugian ekonomi. Kerugian di bidang ekonomi yang paling mudah dihitung adalah kerugian yang ditimbulkan dengan adanya pembatasan ruang gerak yang mengganggu stabilitas ekonomi masyarakat, salah satunya warga desa kemurang wetan yang mayoritasnya adalah seorang petani, buruh tani dan pedagang.

Oleh karenanya, selain program pemberian paket stay at home (SP2) sebagai Upaya Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 di Masa New Normal, Dilakukan sosialisasi Berkebun Hemat dan Ramah Lingkungan di Rumah dengan HIDRONA (Hidroponik Sederhana) sebagai Solusi Perlambatan Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19. Dalam kegiatannya tersebut, Merinah mengenalkan beberapa hal seputar hidropnik, seperti media tanam yang biasa digunakan dalam hidroponik, beberapa system hidroponik dan cara pengaplikasiannya. Selain itu, Merinah juga memberikan pelatihan Budidaya sayur secara hidroponik menggunakan sistem wick (sumbu), hal ini dikarenakan sitem hidroponik ini paling sederhana dan mudah untuk dilakukan. Kelebihan budidaya sayur secara hidroponik dibanding budidaya sayur yang dilakukan secara konvensional yaitu dapat memaksimalkan lahan terbatas, produksi tanaman lebih tinggi, bebas hama dan penyakit, tidak kotor, ramah lingkungan, hemat air dan pupuk, tidak terpaut dengan musim, dan pertumbuhannya lebih cepat.

Kegiatan pemberian paket stay at home (SP2) dan pengenalan serta pelatihan berkebun hemat, ramah lingkungan di rumah dengan HIDRONA (Hidroponik Sederhana) ini mendapat respon baik dari masyarakat Desa Kemurang Wetan, hal ini dibuktikan dari sikap konsisten dan antusias warga Desa Kemurang Wetan dalam mengikuti kegiatan ini. beberapa warga lainnya diberi kesempatan untuk praktek langsung, baik dalam membuat hand sanitizer ataupun  budidaya sayur secara hidroponik.

Kegiatan seperti ini memang bermanfaat dan sangat dibutuhkan saat ini, khususnya bagi kami masyarakat desa kecil yang belum begitu paham mengenai protokol Kesehatan dan hidroponik. Semoga dari hasil kegiatan ini banyak warga yang sadar dan dapat berinisiatif untuk mengaplikasikannya.”, Ujar ibu suneti, salah seorang warga Desa Kemurang Wetan kepada Merinah, Rabu (29/7).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.