Kurangnya Rasa Syukur Dalam Diri Manusia

Menurut pengertian psikologi yang saya pahami bahwa manusia sendiri merupakan makhluk biologis yang sama dengan makhluk hidup lainnya, adalah juga makhluk yang mempunyai sifat-sifat tersendiri yang berbeda dengan makhluk dunia lainnya. Manusia memiliki banyak sifat yang berbeda-beda. Maka dari itu perlu kita ketahui sifat-sifat manusia,  salah satunya yaitu kurangnya rasa syukur yang ditanamkan dalam diri manusia. Syukur, merupakan sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Seringkali kita sebagai makhluk ciptaannya lupa akan kenikmatan yang diberikan. Segala nikmat yang melekat dalam diri kita merupakan nikmat besar yang seharusnya perlu kita syukuri setiap harinya. Kalaupun kita bersyukur dari bangun tidur sampai tidur kembali mungkin kita tidak akan mampu untuk mensykuri satu nikmat saja dari salah satu tubuh kita.

Contohnya kita sebagai remaja yang seringkali membanding-bandingkan tubuhnya dengan tubuh orang lain yang ideal. “mengapa aku gendut si? Mengapa aku jelek? Mengapa aku pesek?”. Coba perhatikan bagaimana organ mata yang telah Allah ciptakan. Bagaimana kemampuan mata  untuk bisa melihat sehingga kita dapat melangkah dalam kegelapan, membaca dalam terang, kita mampu melakukan aktivitas lainnya. Bayangkan nikmat penglihatan ini dicabut oleh sang pencipta?. Apakah kita mampu melangkah dalam gelap atau apakah kita dapat membaca dalam cahaya terang?.

Jika kita mau jujur, apakah kita pantas menyebut diri ini sebagai manusia yang sangat jarang memanjatkan rasa syukur?. Bukankah jika sedikit saja nikmat ini dicabut, maka manusia itu tidak berdaya sama sekali. Apakah lidah mampu berfungsi jika aliran darah tak mengalir, bukankah saat sakit makanan yang nikmat akan terasa hambar? Lalu kenapa kita condong sulit untuk bersyukur?. Yang menghambat kita untuk tidak bersyukur adalah ketidakmampuan kita untuk melihat sisi positif dalam hidup dari hal-hal kecil yang sebenarnya besar. Seperti anggota badan yang tadi dicontohkan, yang kita gunakan setiap hari yang luput dari rasa syukur. Ini merupakan hal-hal kecil yang mungkin sulit terlihat bagi kita sehingga sangat sulit untuk mendatangkan rasa syukur.

Disebutkan dalam QS. Abasa ayat 17 :

قُتِلَ ٱلْإِنسَٰنُ مَآ أَكْفَرَهُۥ

Artinya : “Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ketika seseorang diberi anugrah seperti Al-Qur’an yang isinya merupakan suatu petunjuk yang besar, suatu petunjuk dimana bergantung kehormatan dan kejayaan seluruh umat manusia. Tetapi justru Dia tidak berbuat menurut Al-Qur’an dan menghindar dari petunjuk tersebut, sesungguhnya orang seperti itu secara ruhani sudah mati, karena tidak mensyukuri atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Seperti yang sering kita lihat dalam sinetron-sinetron di TV ketika seseorang diberikan atau dianugerahkan sebuah rezeki dengan bergelimpangan harta, ternak, dan lain sebagainya. Kemudian orang tersebut tidak pernah membagi rezeki tersebut kepada orang yang membutuhkan dengan cara bershodaqoh misalnya, tetapi orang tersebut justru memanfaatkan rezeki tersebut untuk bersenang-senang. Sesungguhnya orang tersebut akan celaka karena tidak pernah bersyukur atau tidak tau cara berterimakasih. Allah SWT. Telah memberikan sebuah peristiwa dari dunia fisik untuk memperagakan kejatuhan manusia dari kedudukan yang terhormat serta terkemuka menjadi seorang yang terkucil akibat tidak tau cara berterimakasih.

 

Penulis : Horirotul Janah (Mahasiswa IAIN Pekalongan)

kharirotuljanah36123@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.