Mari saling mengenal dan saling menasihati tanpa menilai dan menghakimi

Saling Mengenal dan Saling Menasihati
Tanpa menilai dan menghakimi.

Di zaman sekarang teknologi semakin maju dan melesat, tetapi sikap dan etika manusia semakin buruk dan merosot. Banyak orang yang memanfaatkan teknologi hanya untuk mencari popularitas dan kepentingan pribadi yang membuat jiwa sosial tak dapat dirasakan lagi.
Orang-orang memiliki banyak teman di media sosialnya, tetapi mereka tidak mengenal tetangganya sendiri. Ketika kita tidak begitu mengenal orang lain, sangat mudah untuk menilai atau menghakimi mereka tanpa mengetahui alasan dibalik tindakan mereka. Seringkali kita terjebak pada keadaan ini, yang menjadi alasanya yaitu karena kita tidak tau atau tidak mau mencari tahu latar belakang kenapa orang lain melakukan tindakan tersebut. Itu yang mendasari mengapa kita sering salah menilai orang lain padahal kita belum begitu mengenalnya.
Dalam al-qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 mempunyai makna yang luar biasa. Ayat itu menjelaskan bahwa perbedaan itu untuk kita saling kenal mengenal satu sama lain. Dengan saling mengetahui perbedaan diantara kita, maka kita akan lebih toleran. Kita dapat belajar satu sama lain dalam perbedaan tersebut.
Tidak cukup ketika kita hanya berkomunikasi untuk mengenal yang lain, mereka pun juga harus mengenal kita. Interaksi antara kedua belah pihak akan melahirkan bukan hanya rasa simpati saja, tetapi juga melahirkan rasa empati juga. Langkah awalnya adalah konsisten, seperti pesan Al-Hujurat ayat 13 yaitu saling mengenal. Di media sosial zaman sekarang banyak komentar sembarangan dan seenaknya karena yang dilihatnya hanya layar hape atau komputer yang benda mati dan tidak berperasaan. Kita sebagai generasi media sosial, isilah media sosial dengan konten yang positif, kita penuhi dunia ini dengan kebaikan ditengah banyak pula orang yang menyebarkan keburukan.
Leo Tolstoy, seorang penulis asal Rusia mengatakan “banyak orang yang berambisi ingin mengubah dunia, banyak orang yang berambisi ingin mengubah hidup orang lain, tetapi terlalu sedikit orang yang berfikir untuk mengubah dirinya sendiri”. Tuntutan untuk hidup sempurna seringkali membuat seseorang bersikap menghakimi. Seringkali seseorang menilai orang lain dengan sangat mudah, sementara jika ia menilai dirinya sendiri tidaklah mudah.
Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang gemar mengubah hidup orang lain. Tanpa sadar, kita pun terjebak dalam kebiasaan menilai dan menghakimi orang lain. Semua kalangan bia jadi hakim bagi sesamanya, bahkan hamba tuhan sekalipun. Banyak hamba tuhan yang berusaha membereskan dosa-dosa orang lain, tetapi lupa untuk membereskan dosa-dosanya sendiri.
Kita semua memiliki tantangan yang sama, yaitu belajar untuk tidak lagi menghakimi. Jangan menghakimi artinya bukan juga kita tidak peduli dengan kesalahan orang lain, seolah olah itu adalah privasi orang lain dan bukan urusan kita. Sikap menghakimi yang dimaksudkan disini adalah lebih kepada sikap yang fanatik dan agresif terhadap dosa-dosa orang lain, tetapi toleran dengan dosa-dosa sendiri.
Dari sini kita tahu bahwa tidak ada orang yang benar-benar baik dan benar-benar buruk. Terkadang kita memberi penilaian berdasarkan apa yang mereka kerjakan di depan kita saja, padahal belum tentu dibelakang seperti itu. Belajarlah melihat yang tak terlihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.