Menghindari Kekeliruan Informasi Sekaligus Mengurangi Angka Kenaikan Kasus Covid-19

Per 9 Juni 2020, penambahan kasus positif Covid-19 sudah mencapai sekitar 1.000 kasus. Angka yang masih terbilang tinggi rasanya kurang tepat jika New Normal harus diterapkan sesegera mungkin di Indonesia. Lalu mengapa dengan peraturan-peraturan yang sedemikian rupa yang dikeluarkan pemerintah Indonesia, masih tetap menghasilkan angka positif setiap harinya? Pasalnya sudah hampir tiga bulan masyarakat Indonesia berupaya untuk mencegah penularan Covid-19, namun hasilnya seakan nihil. Alih-alih pemerintah malah akan menerapkan New Normal, dengan dalih kita sebagai manusia memang dirasa sudah harus berdamai dengan wabah tersebut.

Kenaikan angka positif Covid-19 di Indonesia, bisa kita katakan terjadi akibat kurang dan kekeliruan cara komunikasi yang dilakukan pemerintah kepada masyarakatnya, sehingga bisa saja terjadi kesalahan informasi yang diterima oleh masyarakat. Meski banyak masyarakat Indonesia yang mengindahkan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah, namun masih ada pula yang melalaikannya akibat ketidakpahaman mereka terhadap pesan yang disampaikan pemerintah. Salah satu contohnya yaitu kebijakan Social Distancing atau pembatasan sosial dengan cara membatasi kontak langsung dengan orang lain, menjaga jarak minimal 1 meter ketika berinteraksi dengan orang lain terutama yang sedang sakit dan juga menghindari kerumunan. Diawal kemunculan kasus positif Covid-19 di Indonesia, pemerintah menganjurkan karantina selama 14 hari dan  Social Distancing dengan menganjurkan sekolah-sekolah maupun kantor melakukan kegiatan secara online, termasuk menutup tempat ibadah untuk menghindari kerumunan dengan tujuan memutus rantai penyebaran Covid-19. Saat itu kebijakan ini diterapkan sampai waktu yng belum ditentukan karena melihat kondisi lapangan penyebaran wabah ini sendiri. Namun siapa sangka, informasi yang masuk ke masyarakat, khususnya masyarakat awam, adalah hanya sebatas melakukan karantina selama 14 hari, sekolah dan kantor libur, menggunakan masker jika bepergian, dan selalu mencuci tangan, namun mereka tidak menjaga jarak. Hal ini yang mengakibatkan setelah masyarakat melakukan karantina selama 14 hari, mereka kembali melakukan kegiatan seperti biasa, hanya bedanya beberapa dari mereka menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Hal ini bisa dikatakan akibat masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengerti istilah Social Distancing itu sendiri dan juga adanya anggapan setelah melakukan isolasi mandiri mereka sudah dipastikan terhindar dari Covid-19. Kondisi seperti ini bisa dilihat pada masyarakat di pelosok daerah yang awam dengan bahasa asing. Dari contoh tersebut jelas ada kekeliruan informasi atau pesan yang diterima oleh masyarakat.

Kekeliruan semacam ini, selain diakibatkan penggunaan bahasa asing, juga bisa diakibatkan karena masih banyaknya masyarakat daerah yang tidak bisa mengakses banyak informasi akibat kurang melek teknologi. Dari kekeliruan tersebut, pemerintah bisa melakukan beberapa hal untuk mencegah adanya kesalahan informasi yang masuk sehingga bisa mengakibatkan kenaikan kasus yang drastis. Pemerintah bisa menyampaikan informasi tentang Covid-19, baik pencegahannya maupun penularannya dengan bahasa yang lebih bisa dimengerti oleh berbagai kalangan. Bisa dengan mengurangi bahasa asing atau lebih dipertegas penjelasannya. Kemudian pemerintah juga bisa mengubah media komunikasi lainnya yang dirasa lebih cocok dan kiranya pesan yang disampaikan bisa sampai ke masyarakat dari segala latar belakang, tentunya lagi-lagi harus berisi pesan yang jelas dan minim bahasa asing. Hal-hal tersebut baik dilakukan mengingat kasus Covid-19 bukanlah permasalahan yang bisa dinomorduakan. Selain pemerintah, kita sebagai masyarakat juga harus sadar akan pentingnya mengindahkan peraturan yang dikeluarkan pemerintah demi menjaga kesehatan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.